-

Jumat, 08 Agustus 2008

Agama Sumber Kekerasan? : Telaah Ormas Islam Indonesia

oleh: Aris Hardinanto
Para sosiolog sejak lama berbicara tentang agama sebagai sumber kekerasan. T.K. Oommen, sosiolog asal India, misalnya, menyimpulkan bahwa kekerasan agama bukan hanya disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti ekonomi, politik, dan psikologi, tapi juga karena agama sendiri menyediakan rujukan yang cukup banyak untuk perilaku semacam itu. Oommen melakukan penelitiannya terhadap semua agama besar dunia, termasuk Islam dan Hindu (T.K. Oommen, Religion as Source of Violence, 2001).



Kaum agamawan dan para moralis biasanya menolak pandangan atau hasil penelitian semacam itu. Bagi mereka, kekerasan bertentangan dengan pesan luhur semua agama. Karenanya tidak mungkin agama menjadi sumber kekerasan. Kalaupun ada kekerasan yang bekaitan dengan agama, maka itu merupakan perbuatan “oknum” pemeluk agama.

Mengatakan bahwa agama sebagai sumber kekerasan agaknya memang sebuah paradoks, karena pesan inti agama adalah perdamaian. Tapi, menolak keterkaitan itu sama sekali juga merupakan perbuatan naif, karena kita jelas-jelas melihat banyaknya fenomena pembunuhan, terorisme, dan perusakan yang mengatasnamakan agama.

Saya kira, temuan para sosiolog itu harus disikapi dengan arif. Sikap emosi dan prasangka buta bukanlah respon yang bijak. Marilah kita mengaca dan memeriksa diri apakah memang agama benar-benar menyediakan amunisi kepada pemeluknya untuk melakukan tindak kekerasan.

Pertama-tama, kekerasan, saya kira, harus dipahami sebagai konsekwensi dari sikap intoleran kepada orang lain (atau pemeluk agama lain). Kalaupun agama tak secara langsung menyuruh umatnya melakukan kekerasan (seperti teror dan perusakan), agama, saya kira, menyediakan pesan yang cukup banyak untuk bersikap tidak toleran.

Saya ingin memberi contoh satu doktrin Islam yang sering digunakan oleh kaum Muslim untuk membenarkan perilaku intoleran dan bahkan tindak kekerasan kepada orang lain; yakni doktrin “amar makruf nahi munkar” yang sangat terkenal itu. Doktrin ini, menurut saya, memberikan peluang bagi intoleransi dan kekerasan.

“Amar makruf nahi munkar” artinya menyuruh orang kepada kebaikan dan mencegahnya berbuat hal-hal yang munkar atau dilarang agama. Sebagian kaum Muslim menganggap bahwa “mencegah yang munkar” harus dilakukan pertama-tama dengan kekerasan (secara fisik), karena sebuah hadis dengan tegas menganjurkan: “Jika kalian melihat suatu kemunkaran, ambillah tindakan dengan tangan kalian…” (man ra’a minkum munkaran, fal yughayyir biyadih…).

Doktrin dan pemahaman ini dipakai oleh sekelompok kaum Muslim di Indonesia dan Malaysia untuk membenarkan perbuatan mereka melakukan razia dan perusakan terhadap tempat-tempat yang mereka anggap sebagai maksiat atau kemunkaran. Di Indonesia, kelompok semacam ini diwakili oleh FPI (Front Pembela Islam), sedangkan di Malaysia diwakili oleh JAWI (Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan).

Baru-baru ini, JAWI melakukan serangkaian razia dan penangkapan terhadap anak-anak muda yang sedang berkumpul di kafe dan tempat-tempat umum (Sunday Mail, 23 Januari 2005). Tindakan ini persis seperti yang pernah dilakukan oleh para anggota FPI beberapa bulan lalu. Masyarakat resah dengan tindakan sewenang-wenang itu. Dan mereka menuntut PM Abdullah Badawi segera menertibkan para “polisi moral” itu.

Tapi, para pemimpin JAWI tak merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya. Ketika salah seorang pemimpin mereka ditanya mengapa melakukan perbuatan itu, jawabannya persis seperti yang pernah dikemukakan pemimpin FPI, yakni mereka berusaha menerapkan amar makruf nahi munkar dan hadis nabi man ra’a minkum munkaran. (Luthfi Assyaukanie)

Baca Selanjutnya.....

RENUNGAN GERAKAN MAHASISWA

Sebuah realita yang tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa ini sedang mengalami keterpurukan yang sangat luar biasa. Semangat refleksi reformasi yang menghiasi dinamika perubahan bangsa ini jauh dari angan-angan,seakan – akan seriak harapan telah sirna oleh perilaku negara yang tidak memberikan perubahan bagi bangsa ini.Korupsi yang merajalela semakin menghancurkan karakter Bangsa Indonesia yang terkenal dengan budaya timurnya sopan santun , ramah, dan mengedepankan moral.
Sesungguhnya persoalan diatas merupakan tanggungjawab dan dosa bersama kita sebagai agen of change yang pastinya mempunyai posisi yang strategis dalam memainkan perubahan bagi bangsa ini, dengan modal sosial yang cukup luar biasa mahasiswa menjadi avant garde gerakan dikampus ini. Sadar tidak sadar pelopor reformasi itu digulirkan oleh mahasiswa. Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah semangat reformasi masih eksis disanubari mahasiswa sekarang ? apakah gerakan mahasiswa masih diminati oleh para mahasiswa ?

OPTIMALISASI PROGRESIFITAS GERAKAN MAHASISWA DILINGKUNGAN KAMPUS
Tema diatas diangkat oleh kawan-kawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat

Soedirman yang dilakukan dengan diskusi publik dikelurahan grendeng 3 April 2008 , dengan selaku narasumber diskusi adalah Bapak Anjar Nugroho S.Ag M.Si mantan Aktivis IMM dan Bapak Ahmad Sabiq S.Ip M.A dosen jurusan ilmu politik Unsoed. Diskusi publik itu menyoal berbagai problematika progresifitas gerakan mahasiswa saat ini. Disampaikan oleh beliau Bapak Anjar bahwa” Progresifitas gerakan mahasiswa tempo 98 dengan sekarang ya sangat berbeda, era 98 kawan-kawan mahasiswa hanya memiliki prominent enemy yaitu Soeharto, sehingga jelas arah perjuangannya dan tercover dalam satu tema, berbeda dengan tempo sekarang problematikanya lebih komplek dan cenderung separate mestinya kulturnya pun berbeda sehingga membutuhkan strategi berbeda pula. Disisi lain Bapak Sabiq berpendapat bahwa ”gerakan mahasiswa sekarang terutama mahasiswa berbasis islam ada yang lebih senang mengangkat isu Internasional ketimbang isu lokal atau nasional serta konsennya mahasiswa hanya pada wilayah kekuasaan tidak lebih kepada wilayah kerakyatan, padahal kapasitas kita tidak bisa sampai sejauh itu, dan tentunya aksi-aksi seperti itu tidak akan lebih mengena pada persoalan yang sedang kita hadapi seperti satu senter menyinari bumi disiang hari”
Kemudian juga yang banyak dikeluhkan oleh para aktivis yakni kecenderungan minat mahasiswa untuk berorganisasi berkurang sehingga berdampak pada kurangnya kader pada sebuah gerakan itu sendiri.Ada hal yang menarik ketika era 98 yaitu konsekuensi seseorang menginginkan punya banyak kawan, ingin mencari jodoh maka konsekuensinya orang itu harus berorganisasi dikarenakan mayoritas orang pada saat itu ikut berorganisasi, hal yang mendukung tentunya tidak lain dari kesadaran pribadi serta kultur yang menghendakinya seperti itu.Dampak merosotnya minat Mahasiswa berorganisasi dapat dilihat dari indikator kurangnya generasi-generasi baru di beberapa organisasi.Sebagian Mahasiswa sekarang berasumsi bahwa berorganisasi dapat merusak nilai akademik kampus sehingga akibatnya prioritas lulus dengan predikat coumlaude atau lulus cepat tidak terpenuhi, sebenarnya asumsi itu yang mengakibatkan evaluasi terhadap dirinya sendiri lebih berkurang dan tidak mempunyai semangat .Proses pragmatisasi dan birokratisasi, atau dalam bahasa Weber, mahasiswa telah terperangkap dalam kerankeng besi rasionalitas yang selama ini telah mereka bangun sendiri. Pada gilirannya keadaan ini menjauhkan mahasiswa dari diskursus-diskursus pemikiran di kalangan intelektual yang marak belakangan ini.
Disorientasi gerakan mahasiswa saat ini sangat dirasakan sekali pasalnya kurangnya pemetaan dan konsep yang matang untuk melakukan manuver-manuver perubahan yang diharapkan membawa dinamisasi, seharusnya lebih segmented terhadap problematika sekarang ini. Idealnya gerakan Intelektual lebih diutamakan untuk mendapatkan win-win solution demi menjawab permasalahan yang memang boleh dibilang sangat komplek.Maka kedepan sebuah gelar yang memang sudah dikonstruksi oleh banyak orang untuk mahasiswa seperti agent of change, agent of social control, dan agent of iron stock kiranya masih pantas Mahasiswa diberi gelar itu.
Dengan perkembangan itu dapat dikatakan bahwa secara kuantitatif kiprah mahasiswa harus lebih besar yang kemudian memperkokoh citra diri (self-image) gerakan Mahasiswa sebagai gerakan intelektual yang bersifat praktis dan dapat memberi wacana mainstream yang dibutuhkan sekarang ini. Perubahan sosial dalam dinamika perubahan memiliki akar sejarah yang sangat kuat, perubahan dalam dinamika Islam dikenal tajdid sebagaimana dalam banyak literatur hadist, kemudian muncul dengan berbagai predikat seperti: reformisme, modernisme”. Sebagai pengemban perubahan sosial sesungguhnya tugasnya adalah melakukan perubahan sosial terhadap dinamika bangsa ini yang jauh melenceng dari norma-norma berlaku.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual, bila kita melihat beberapa perspektif diatas, bahwa peranan dan posisi mahasiswa sangat strategis dalam memainkan perubahan bagi bangsa ini karena sebagai gerakan sosial posisinya sebagai alat perubah dalam setiap dinamika perubahan, Maka dalam konteks ini IMM mengajak sebagai bagian gerakan mahasiswa yang berhak memiliki dan berhak mengimplementasikan dikehidupan nyata. Sebagai sosok manusia yang diciptakan Allah SWT mempunyai fitrah kepemimpinan, maka kepemimpinan merupakan realitas keniscayan yang harus diemban sebagai bentuk ihktiar perubahan dalam dinamika hidup. IMM sebagai wadah kumpulan komunitas memerlukan ruang bagi kreator-kreator untuk menghidupkanya.
Billahi fi sabilil haq, fastabiqul khoerot











IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH (IMM)
KOMISARIAT SOEDIRMAN (KOMSOED)
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO

Sekretariat: Jl. Gunung Slamet Gg. Mawar Rt. 01/01, Kr wangkal, Purwokerto, CP : 0856 4284 3886


Baca Selanjutnya.....

Ora usah adu argument kalau ora nganggo dalil, bahaya mbok kepleset,,,,he,,,,

Ibarat bahtera kapal pesiar yang sedang mengarungi samudera luas, kalau bahan dasar pembuatan kapal tersebut menggunakan kayu keropos maka akan mudah terombang-ambing dan cepat musnah diterjang ombak lautan, sama halnya dengan manusia yang sedang mengarungi samudera kehidupan, ketika tidak memiliki pondasi yang kokoh dalam perjalanan hidupnya maka akan cepat pula terpengaruh kultur yang bisa membawa kita kejalan jahiliyah dulu. Di semua aktivitas, kita selalu terikat dengan apa yang dinamakn peraturan(kumpulan norma). Adapun klasifikasinya yaitu : wajib, sunnah, mubah, haram, dan makruh. Semisal makan itukan mubah, tetapi akan menjadi wajib jika laparnya kita menyebabkan kematian(kecuali lg saum), atau makan menjadi haram jika makanan yang kita makan diambil dan disembelih dgn cara yang tidak ma’ruf….karena “sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk Assunnah, dan sejelek-jelek perkara (ibadah) yaitu yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat”.

Jadi


ketika immawan-immawati menginginkan izzul Islama wal muslimin (kurang lebih artine kejayaan umat islam sebagai realita) maka sumber hukumnya Al-qur’an dan Assunnah, tidak ada yang lebih superior selain dua hal itu.Ingat Lex superior derogate legi infreori knapa??. meskipun Rasulullah di Madinah telah mewariskan Piagam Madinah yang menurut Robert N. Bellah lebih modern dari zamannya akan tetapi perilaku umatnya masih jauh dari sikap Nabi yang diteladaninya (Bellah, 2000:56). Atau ketika Masyarakat egaliter dan penghargaan sesama yang nampak pada zaman Nabi, lambat laun terhapus dengan terciptanya sistem monarki pada zaman dinasti Umaiyah, Abbasiyah, dan seterusnya.akan tetapi yang namanya uswatun khasanah tidak selalu disejajarkan sama persis dengan yang menirunya (perbedaan aktualisasi) .kepemimpinan setiap khalifah akan memiliki kelebihan sendiri-sendiri akan disesuaikan dengan kemampuannya (Allah tidak akan menimpakan suatu cobaan yang makhluknya tidak mampu mengembannya ), hal ini bisa dilihat pada masa dinasti umaiyah memperluas wilayah kekuasaan Islam dari sejak Afrika Utara, sebagian India, Afganistan, Turki, dan sebagian kerajaan romawi timur,, ,,,so pasti dalam ekspansi kekusaaan wilayahnya menggunakan etika islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Hal ini berbeda dengan masa khalifah Dinasti Abasiyah yang menekankan vitalisasi pengetahuan dan kebudayaan dengan sekuat tenaga dengan menghimpun para cendikiawan untuk mengadakan forum keilmuan dan kebudayaan yang dinamai”Darul-Hikmah” sehingga melahirkan Al-kindi(dokter,ahli optika , astronomi, dan geometri, Al-Farabi (ahli ilmu logika).
Mungkin saya termasuk orang yang berpendirian bahwa Islam bukanlah semata-mata agama dalam pengertian sempit, yakni yang hanya mengyangkut hubungan antara manusia dan Tuhannya. Sebaliknya, Islam adalah suatu agama yang sempurna dan lengkap dengan pengaturan bagi segala aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara yang menginginkan kebangkitan Islam lewat praktek politik Islam yang diteladani oleh nabi Muhammad SAW dan Khulafau Al-Rasydin.
Jadiiiii harus adanya wajibisasi penggunaan dalil baik sejarah islam, nash Qur’an maupun sunnah kalau mau nulis di milis IMM_JATENG, ja pintere ngomong ngana-ngene tapi ngehenk… ingat-ingat lho huruf M yang paling belakang susah payah carinya…he…



RIZKY FAJAR
( KADER IMM KOM.SOEDIRMAN UNSOED)

Baca Selanjutnya.....

IMM GUNAKAN MOMEN HARI PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN PENGAJIAN BERSAMA MASYARAKAT



Walaupun hari pendidikan nasional sudah terlewatkan,semangat tak pernah berakhir. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)Jum’at (9/05)melakukan refleksi hardiknas dengan berbagi bersama dalam bentuk pengajian bersama warga dan pemberian Santunan berupa buku tulis kepada 110 anak-anak kurang mampu dibalai kelurahan Karangwangkal Purwokerto Utara . Pengajian yang bertemakan “Arti pentingnya pendidikan ” ini dihadiri oleh 200 orang yang terdiri dari kalangan masyarakat umum dan tokoh masyarakat sekitar karangwangkal, acara ini mendapat antusias dari pengunjungnya.
Rizky Fajar (Ketua Umum IMM komisariat Soedirman )mengapa acara ini sangat perlu diselenggarakan? Karena permasalahan pendidikan merupakan problematika yang sangat krusial, dimana pendidikan menentukan Sumber daya manusia suatu Negara.Jika pendidikan disuatu Negara tidak mendapatkan perhatian serius maka bisa dikatakan telah lemahnya pola pikir masyarakat didalam Negara untuk mempersiapkan dinamika jaman.Negara kita yang tidak berkomitmen dalam memprioritaskan pendidikan, menjadi suatu hambatan tersendiri dalam menghadapi era globalisasi.Apalagi Sistem Kapitalisme sudah merambah ke dalam wilayah pendidikan seperti komersialisasi pendidikan dari tingkat jenjang pendidikan SD sampai ke perguruan tinggi, menjadi penyumbat kemajuan pendidikan di Negara kita.Kemudian ditambah lagi kurikulum pendidikan yang berubah-ubah menjadi kebingungan tersendiri bagi siswa , buku-buku yang mempunyai cetakan kurikulum lama tidak digunakan kembali oleh generasi berikutnya, seperti ada permainan bisnis yang sudah sering dilakukan para oknum dalam ranah pendidikan.

Baca Selanjutnya.....
 

© 2007 Laskar Soedirman: Agustus 2008 | Design by Template Unik



Template unik dari rohman


---[[ Skip to top ]]---