-

Jumat, 08 Agustus 2008

Ora usah adu argument kalau ora nganggo dalil, bahaya mbok kepleset,,,,he,,,,

Ibarat bahtera kapal pesiar yang sedang mengarungi samudera luas, kalau bahan dasar pembuatan kapal tersebut menggunakan kayu keropos maka akan mudah terombang-ambing dan cepat musnah diterjang ombak lautan, sama halnya dengan manusia yang sedang mengarungi samudera kehidupan, ketika tidak memiliki pondasi yang kokoh dalam perjalanan hidupnya maka akan cepat pula terpengaruh kultur yang bisa membawa kita kejalan jahiliyah dulu. Di semua aktivitas, kita selalu terikat dengan apa yang dinamakn peraturan(kumpulan norma). Adapun klasifikasinya yaitu : wajib, sunnah, mubah, haram, dan makruh. Semisal makan itukan mubah, tetapi akan menjadi wajib jika laparnya kita menyebabkan kematian(kecuali lg saum), atau makan menjadi haram jika makanan yang kita makan diambil dan disembelih dgn cara yang tidak ma’ruf….karena “sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk Assunnah, dan sejelek-jelek perkara (ibadah) yaitu yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat”.

Jadi


ketika immawan-immawati menginginkan izzul Islama wal muslimin (kurang lebih artine kejayaan umat islam sebagai realita) maka sumber hukumnya Al-qur’an dan Assunnah, tidak ada yang lebih superior selain dua hal itu.Ingat Lex superior derogate legi infreori knapa??. meskipun Rasulullah di Madinah telah mewariskan Piagam Madinah yang menurut Robert N. Bellah lebih modern dari zamannya akan tetapi perilaku umatnya masih jauh dari sikap Nabi yang diteladaninya (Bellah, 2000:56). Atau ketika Masyarakat egaliter dan penghargaan sesama yang nampak pada zaman Nabi, lambat laun terhapus dengan terciptanya sistem monarki pada zaman dinasti Umaiyah, Abbasiyah, dan seterusnya.akan tetapi yang namanya uswatun khasanah tidak selalu disejajarkan sama persis dengan yang menirunya (perbedaan aktualisasi) .kepemimpinan setiap khalifah akan memiliki kelebihan sendiri-sendiri akan disesuaikan dengan kemampuannya (Allah tidak akan menimpakan suatu cobaan yang makhluknya tidak mampu mengembannya ), hal ini bisa dilihat pada masa dinasti umaiyah memperluas wilayah kekuasaan Islam dari sejak Afrika Utara, sebagian India, Afganistan, Turki, dan sebagian kerajaan romawi timur,, ,,,so pasti dalam ekspansi kekusaaan wilayahnya menggunakan etika islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Hal ini berbeda dengan masa khalifah Dinasti Abasiyah yang menekankan vitalisasi pengetahuan dan kebudayaan dengan sekuat tenaga dengan menghimpun para cendikiawan untuk mengadakan forum keilmuan dan kebudayaan yang dinamai”Darul-Hikmah” sehingga melahirkan Al-kindi(dokter,ahli optika , astronomi, dan geometri, Al-Farabi (ahli ilmu logika).
Mungkin saya termasuk orang yang berpendirian bahwa Islam bukanlah semata-mata agama dalam pengertian sempit, yakni yang hanya mengyangkut hubungan antara manusia dan Tuhannya. Sebaliknya, Islam adalah suatu agama yang sempurna dan lengkap dengan pengaturan bagi segala aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara yang menginginkan kebangkitan Islam lewat praktek politik Islam yang diteladani oleh nabi Muhammad SAW dan Khulafau Al-Rasydin.
Jadiiiii harus adanya wajibisasi penggunaan dalil baik sejarah islam, nash Qur’an maupun sunnah kalau mau nulis di milis IMM_JATENG, ja pintere ngomong ngana-ngene tapi ngehenk… ingat-ingat lho huruf M yang paling belakang susah payah carinya…he…



RIZKY FAJAR
( KADER IMM KOM.SOEDIRMAN UNSOED)

 

© 2007 Laskar Soedirman: Ora usah adu argument kalau ora nganggo dalil, bahaya mbok kepleset,,,,he,,,, | Design by Template Unik



Template unik dari rohman


---[[ Skip to top ]]---